Website statistic:
Jumlah Kunjungan   :
1256823
PUBLIKASI
Publikasi PROPER 2018

Kriteria PROPER pada tahun 2013 didesain untuk mendorong dunia usaha untuk memitigasi dampak secara sistematis dengan indikator kinerja yang terukur. Pada tahun berikutnya, dunia usaha selain melakukan upaya mitigasi mulai didorong untuk mengukur dan melaporkan kinerja pengelolaan lingkungan berupa efisiensi energi, penurunan emisi, penghematan air, pemanfaatan limbah B3 dan non B3, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Hasilnya pada setiap tahun berhasil dilaporkan upaya-upaya perbaikan lingkungan tersebut secara kuantitiatif. Pada tahun 2018 ini upaya efisiensi energi mencapai 273,61 juta GJ, penurunan emisi GRK sebesar 38,02 juta ton CO2e, penurunan emisi udara sebesar 18,69 juta ton, reduksi LB3 sebesar 16,34 juta ton, 3R limbah non B3 sebesar 6,83 juta ton, efisiensi air sebesar 540,45 juta m3, penurunan beban pencemaran air sebesar 31,72 juta ton dan berbagai upaya perlindungan keanekaragaman hayati seluas 55.997 ha.

Upaya upaya perbaikan kinerja lingkungan ini ternyata mendorong timbulnya inovasi-inovasi baru. Oleh sebab itu, pada tahun 2015 dimasukkan kriteria penilaian ekoinovasi yang terdiri dari 4 kriteria yaitu : adanya unsur kebaruan, terdapat dampak posisitf terhadap lingkungan yang dapat diukur secara kuantitatif, adanya penghematan biaya dan adanya nilai (value) yang meningkat dari perubahan yang dilakukan. Inovasi berbasis prinsip- prinsip lingkungan ini ternyata dapat mendorong perusahaan menjadi lebih efisien dan terjadi penghematan biaya. Oleh sebab itu, mulai tahun 2017 sudah mulai wajib dilakukan perhitungan jumlah penghematan biaya yang dihasilkan dari inovasi- inovasi tersebut. Bukti nyata adanya efisiensi dan penghematan biaya ini ternyata mampu mengubah presepsi para pemimpin perusahaan yang dahulu mengganggap mengelola lingkungan merupakan beban biaya bagi perusahaan, ternyata dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Mulai terlihat inisiatif pimpinan perusahaan untuk mendorong inovasi di dalam perusahaan dengan memngadakan kompetisi internal dan bahkan membawa hasil inovasinya untuk berlomba di tingkat internasional. Inovasi yang pada tahun 2015 hanya tercatat 151 meningkat menjadi 542 pada tahun 2015. Sedangkan penghematan biaya yang berhasil dilakukan oleh perusahaan mencapai Rp. 287,334 Trilyun meningkat 5 kali lipat dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp. 53,076 Trilyun.

Upaya perbaikan kinerja pengelolaan lingkungan ini ternyata juga berdampak posistif terhadap masyarakat. Pada tahun 2018 ini tercatat Rp. 1,53 Trilyun bergulir dimasyarakat untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. Jumlah ini memang relatif menurun dibanding dengan tahun tahun sebelumnya, namun demikian PROPER berhasil mendorong dana pemberdayaan masyarakat memberikan hasil nyata dan terukur untuk menjawab kebutuhan masyakat. Seperti kita ketahui, program pembedayaan masyarakat dalam PROPER wajib didasarkan atas social mapping, untuk mengidentifikasi masyarakat yang rentan dan lokal-lokal hero yang dapat dijadikan sebagai agen perubahan. Setelah itu dilakukan identifikasi modal social dan potensi sumberdaya yang dimiliki dimiliki oleh masyakat, kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama masyarakat untuk merumuskan program bersama. Indikator kerberhasilan program selalu dirumuskan dan terukur, kemudian dilakukan evaluasi keberhasilan dan kepuasan penerima manfaat. Target akhir adalah tercapainya kemandirian masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.

Keberhasilan program pemberdayaan ini dilakukan dengan mengubah pola pikir yang dahulu program pemberdayaan adalah program bagi-bagi bantuan (charity) menjadi program terstruktur dan terukur untuk memberdayakan masyarakat. Hal ini terlihat dengan proporsi jumlah anggaran yang digunakan untuk kegiatan charity menjadi semakin kecil, pada tahun 2013 sejumlah 39% anggaran digunakan untuk charity, pada tahun 2018 menurun menjadi 15%. Lonjakan terjadi pada anggaran yang berkaitan dengan pemberdayaan, pada tahun 2013 hanya 15% menjadi 52% pada tahun 2018. Proporsi anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas relatif sama dari tahun ke tahun. Angka tersebut menunjukkan PROPER berhasil mengubah paradigma program CSR yang bersifat charity menjadi program yang berorientasi pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat mandiri yang mampu mengatasi masalah sosial ekonominya sendiri.

Pada tahun 2018 ini, PROPER menambahkan kriteria penilaian kontribusi perusahaan terhadap pencapaian SDGs. Hasilnya adalah dari 437 industri calon kandidat hijau, terdapat 8474 kegiatan yang menjawab tujuan SDGs, dengan kontribusi setara Rp. 38,9 Triliun.

Menengok angka-angka tersebut terdapat optimisme untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup Indonesia, meskipun juga harus diakui tantangan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup Indonesia yang sangat besar. Saya percaya dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi dan berbagai organisasi masyarakat yang terus berkembang dengan metode-metode yang baru dan inovatif, maka kualitas lingkungan hidup Indonesia dapat kita perbaiki, kita jaga dan kita tingkatkan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Informasi lebih lengkap seputar pelaksanaan PROPER 2018 dapat diunduh pada link berikut:

 

Buku Kumpulan Inovasi PROPER 2017
Dari penerapan kriteria PROPER selama 4 tahun terakhir terdapat satu kata kunci yang membedakan perusahaan yang unggul dan tidak, yaitu inovasi. Inovasi dalam PROPER harus dapat menunjukkan unsur kebaruan, mengkuantifikasi dampak positif terhadap lingkungan, mengkuantifikasi keuntungan ekonomi (penghematan biaya) dan menunjukkan pertambahan nilai (Creating Value) bagi karyawan, konsumen dan masyarakat. Hasilnya, pada tahun 2015 tercatat sebanyak 150 inovasi tercapai. Tahun 2016 terdapat 260 inovasi dan tahun 2017 terjadi peningkatan sebesar 54% dari tahun sebelumnya, yaitu menjadi 401 inovasi. Inovasi mendorong efisiensi biaya sebesar Rp. 53.076.831.869.933,00 pada tahun 2017 dari upaya efisiensi energi, penurunan emisi, 3R limbah B3, 3R limbah non B3, efisiensi air dan penurunan beban pencemaran air.
 
Buku ini diharapkan dapat memberikan informasi berkaitan dengan kegiatan dan inovasi yang dilakukan oleh industri PROPER. Diharapkan dapat dimanfaatkan dengan sebaik - baiknya oleh pihak - pihak yang membutuhkan.

 

Link download:

Buku Kumpulan Best Practice dan Inovasi Industri PROPER 2017.

 

Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan (DRKPL) PROPER 2013

Organisasi seperti halnya organisme harus dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungannya untuk dapat bertahan hidup dan berkembang. Organisasi yang gagal berubah akan mati dan punah, sebaliknya yang mampu beradaptasi akan terus tumbuh dan berkembang. Pentingnya adaptasi ini tercermin dari perubahan paradigma organisasi sesuai dengan tantangan zaman. Paradigma organisasi birokrasi yang dikembangkan Max Weber merupakan arus utama pengembangan organisasi pada tahun 1900an. Pada tahun 1950an konsep ini dianggap usang karena dinilai tidak dapat lagi menjawab tantangan dan perkembangan industrialisasi. Karenanya paradigma organisasi berbasis kinerja Peter Drucker menggantikan paradigma Max Weber. Dalam perkembangannya indikator kinerja ternyata seringkali memberikan gambaran keliru terhadap keberlajutan organisasi. Indikator kinerja yang berorientasi jangka pendek seringkali tidak dapat mengidentifikasi kelemahan-kelemahan sistemik dalam organisasi. Ketika terjadi suatu krisis, organisasi tidak mampu beradaptasi dengan cepat karena gagal belajar untuk memperbaiki akumulasi kelemahan-kelemahan sistemik. Paradigma organisasi berbasis kinerja mulai ditinggalkan digantikan dengan organisasi pembelajaran. Organisasi pembelajaran menurut Peter Senge (2000) adalah organisasi yang manusia-manusianya terus-menerus meningkatkan kapasitasinya untuk menciptakan hasil-hasil yang sungguh-sungguh mereka inginkan, terus-menerus mengembangkan dan memelihara pola-pola pikir baru yang sistemik, membebaskan aspirasi-aspirasi kolektif berkembang dan terus-menerus belajar bagaimana belajar bersama secara sinerjik.

PROPER merupakan salah satu sarana kebijakan (policy tool) yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dalam rangka mendorong penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap berbagai peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup, melalui instrumen informasi dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Oleh sebab itu, PROPER terkait erat dengan penyebaran informasi kinerja penaatan masing-masing perusahaan kepada seluruh pemangku kepentingan pada skala nasional.

Kementerian Lingkungan Hidup juga mendisain PROPER sebagai organisasi pembelajaran yang akan mendorong pemikiran-pemikiran baru dan memfasititasi proses belajar terus menerus secara sinerjik bagi para pemangku kepentingan. Banyak best practice pengelolaan lingkungan hidup yang telah teridentifikasi dan terjaring dalam proses penilaian PROPER.  Best practice ini perlu disebarluaskan untuk mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk mereplikasi, mengadopsi dan mengembangkan sesui dengan nilai-nilai sumber daya dan karakteristik internal dan eksternal perusahaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mempublikasikan Kumpulan Dokumen Ringkasan Pengelolaan LIngkungan Hidup PROPER 2013 Peringkat Emas.

Berikut Dokumen Ringkasan Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup PROPER 2013:

1. PT. Badak NGL

2. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit Pertambangan Tanjung Enim

3. Chevron Geothermal Indonesia - Darajat

4. Chevron Geothermal Indonesia - Salak

5. PT. Holcim Indonesia, Tbk - Cilacap Plant

6. PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. - Pabrik Palimanan

7. PT. Jawa Power

8. PT. Medco E&P Indonesia - Rimau Asset

9. PT. Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang

10. PT. Pertamina (Persero) S&D Regional II Terminal BBM Rewulu

11. PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk. - Pabrik Tuban

12. PT. Unilever Indonesia, Tbk - Pabrik Rungkut

 

The Gold For Green

THE GOLD FOR GREENUntuk menjalankan bisnis yang berhasil, adalah penting untuk memperhatikan tren-tren di industri dan pasar dunia secara keseluruhan. Bagi mereka yang mengikuti saran ini, akan dapat melihat dengan mudah bahwa salah satu tren yang paling penting belakangan ini adalah upaya yang meluas untuk “jadi hijau” (go green). Praktik-praktik keberlanjutan dan operasi-operasi yang ramah lingkungan sudah menjadi standar di setiap industri. Tetapi mengapa demikian banyak perusahaan begitu bersemangat untuk bergabung dalam perubahan lanskap perniagaan dunia ini? Kabarnya, dengan mengadopsi praktikpraktik ramah Lingkungan akan meningkatkan nilai perusahaan, membuat pelanggan senang, Dan melindungi masa depan planet kita. Ini benar jika dikaitkan dengan proses-proses industri dan pabrik-pabrik. Nyatanya, banyak pakar sepakat  bahwa jika sebuah bisnis ingin sukses dalam jangka  panjangnya, ia harus jadi hijau!

PUBLIKASI


 
©SEKRETARIAT PROPER KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
Jl. D.I. Panjaitan Kav. 24 Kebon Nanas Jakarta Timur - Gedung B Lantai 4 - Indonesia 13410
Telp/Fax : 021-8520886 / 021-8580105. Email : sekretariatproper@gmail.com